Alih-alih melontarkan berjuta kalimat manis penuh pujian, coba deh lakukan ini:
- Katakan yang dilihat
- Banyak tanya, sedikit komentar
Dengan mengajukan pertanyaan, kita akan lebih menjalin percakapan dengan anak dibandingkan saat kita hanya mengucapkan pujian. Selain itu, anak akan lebih merasa dihargai karena berarti kita benar-benar mengamati hasil karyanya. Setuju?
- Puji prosesnya, bukan hasilnya
- Mengucapkan pujian di saat-saat yang tepat
Kata-kata yang paling menohok saat seminar itu adalah, orangtua seringnya hanya berkomunikasi dengan anak di 2 hal: saat anak melakukan kenakalan atau kehebatan. Jadi komunikasi yang terjalin dengan anak seringnya, memarahi atau memuji. Selain dua hal itu, seringkali, nihil.
Kemudian Ibu Delfie menyarankan pujilah anak saat dia tak melakukan apa-apa. Misalnya, “Duh, ibu bahagia punya anak kamu”, padahal si anak lagi duduk diam sambil main boneka. Kenapa hal ini justru disarankan? Karena dari sini, si anak akan bertanya kenapa, lalu kita bisa menerangkan hal yang sejujurnya kenapa kita bahagia punya anak seperti dia. Bukan karena makanan yang ia habiskan, piala yang ia bawa pulang, atau kemampuannya mengancingkan kemeja.
Ya, tunjukkan pada anak bahwa kita mencintai dia, apa adanya :)

0 Response to "Pujilah anak Pada tempatnya !!"
Post a Comment