Kebingungan Tentang Vaksinasi (Pro Kontra tanpa harus Fanatik)



Suatu hari muncul lah pembahasan serius antara Y dan X (bukan antara saya dan beliau ya hehe). ‘Y’ mengklaim bahwa vaksin itu beracun dan tidak halal. Kemudian ‘X’ mengajukan pertanyaan-pertanyaan serius soal hal ini (lanjutkan membaca untuk melihat pertanyaan-pertanyaan bagus ‘X’ ini). Postingan ini hanya ingin sedikit mengomentari pertanyaan-pertanyaan yang saya juga dulu menanyakan hal yang sama. Perlu diketahui bahwa saya juga dulu amat mendukung anak-anak saya divaksinasi. Malah saya mengingat-ngingat jadwal vaksinasi, dan sudah merencanakan akan mengikuti jadwal tersebut secara full-full-full. Well, ternyata di tengah jalan hal-hal terjadi, dan saya pun berputar 180 derajat. But, saya prochoice, artinya saya mendukung pilihan para orangtua—terserah mau vaksinasi atau pun tidak. Jangan katakan pada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita bahwa dia tidak sayang sama anaknya. Ada 15 hal yang jangan dikatakan dalam debat vaksin dan salah satunya adalah, “Kamu gak sayang anak kamu kalo gak mau vaksinasi”. Orangtua yang mengizinkan anaknya divaksinasi melakukan itu karena sayang pada anaknya. Begitu pun orangtua yang memilih tidak mengizinkan anaknya divaksinasi memilih itu karena sayang pada anaknya. Jadi, kita sama-sama punya kesamaan; sama-sama sayang anak. Gak perlu saling memberi label, ok! Saya juga tidak menolak vaksinasi karena alasan halal-haram maupun kafir-kafiran. Pembahasan vaksinasi menjadi stagnan dan gak asyik banget akibat orang-orang yang saling mengkafirkan akibat pilihan vaksinasi ini. Saya juga pernah membaca yang pro-vaksin menyebut yang gak mendukung vaksin sebagai ‘bahlul’. Kalo ada yang komentar saling memberi label seperti ini di postingan saya maka akan saya hapus, ya… (deal) Saya juga gak suka memberi label ‘hoax’ untuk segala tulisan yang berbeda pendapat dengan saya. Karena dulunya saya setuju dengan vaksinasi, saya juga membaca dari sumber-sumber provaksin. Saya pun terbuka untuk membaca apa sih di balik keengganan orangtua untuk tidak memvaksinasi anaknya, dan ini adalah pembahasan serius di seluruh dunia, tidak hanya di Indonesia. Di Amerika ada grup yang bernama National Vaccine Information Center yang didirikan oleh seorang dokter medis Barbara Loe Fisher. Di Australia ada Australian Vaccination Network yang kemudian berganti nama menjadi Australian Vaccination-skeptics Network. Dan seterusnya. Saya pun pernah sengaja mengikuti seminar vaksinasi yang diadakan oleh Biofarma awal 2014 lalu (jadi, saya kurang lebih tahu ya, alasan-alasan mengapa orang-orang memilih vaksinasi). Di postingan ini saya akan memberikan link-link sumber yang semuanya resmi pemerintah, perusahaan, mapun medis yang pro-vaksin. Saya tidak mau membawa Anda ke link-link ‘hoax’ yang ‘anti-vaks’ haha… Oh ya, satu lagi, saya gak punya keuntungan finansial dengan menulis postingan ini. Kalau misalnya saya menjual ‘serum anti-vaksin’ lalu menyebutkan hal-hal yang jelek tentang vaksin, maka boleh Anda curiga. Tapi, saya tidak menjual apa pun. Tulisan ini dibuat karena… saya mau. Oke, kita masuk ke poin-poin Akang X ini (perlu diingat, ini adalah ngomong ke si ‘Y’, ya… tapi komentarnya dari saya :D)—pertanyaan X dalam bentuk bold, dan komentar saya dalam bentuk font biasa: *Pertama, saya pribadi tidak sangsi dengan khasiat herbal yang bersumber dari Al-Qur’an dan Assunnah tersebut, insya Allah, saya pun akan menerapkannya pada anak saya kelak. Berhubung belum ada yang mau jadi istri saya, jadi saya belum punya anak untuk diimunisasi #curcol Saya doakan semoga akang X segera punya istri dan dikaruniai keturunan yang sholeh dan sholehah :). Aamiin.   *Kedua, Kriteria Thoyyib itu seperti apa sih? Maksudnya, kriteria seperti apa sehingga Anda mengklaim vaksin produksi PT. Biofarma ini tidak thayyib, atau bahkan mungkin beracun? Sehingga pertanyaan berikutnya, apakah Anda sudah melakukan penetlitian terhadap vaksin tersebut? Kalau ada, adakah jurnalnya? Saya sarankan ada baiknya melakukan interaksi dan komunikasi dengan pihak produsen untuk mengklarifikasi atas klaim Anda.  Untuk menentukan keamanan suatu produk vaksin, ada 3 pertanyaan yang bisa kita ajukan.
  1. Apa komponen yang ada di dalam vaksin? Boleh lihat langsung ke situs biofarma (http://www.biofarma.co.id/?page_id=14838#all/1/list). Kita ambil contoh Pentabio (http://www.biofarma.co.id/?dt_portfolio=pentabio-vaksin-dtp-hb-hib). Di situ selain zat aktif si ‘kuman’-nya itu sendiri, disebutkan juga ada tambahan alumunium (sebagai adjuvant) dan thimerosal (sebagai pengawet). Sebenarnya sayangnya situs biofarma kurang lengkap infonya dibandingkan perusahaan penyedia vaksinasi lain yang lebih detail memberikan informasi produknya. Contoh yang saya maksud lebih detail itu misalnya insert package Pediatrix dari GlaxoSmith&Kline (http://us.gsk.com/products/assets/us_pediarix.pdf) (pdf) dan insert package MMR II dari Merck & Co, Inc (http://www.merck.com/product/usa/pi_circulars/m/mmr_ii/mmr_ii_pi.pdf) (pdf). Jika kita membuka info-info package insert tersebut, terlihat lebih jelas ada bahkan hingga adverse reactions-nya
Ini bagian yang saya capture dari dokumen tersebut. MMR II Vaccine Insert - Merck - February 2014 Oke, maaf, kembali ke pertanyaan… Apa isi produk tersebut? Karena di Biofarma kita anggap
tidakbelum terlalu lengkap, kita buka contoh daftar tambahan dalam vaksin di Amerika Serikat. Ini salah satu yang saya capture dari salah satu dokumen berjudul Vaccine Excipient & Media Summary (http://www.cdc.gov/vaccines…): Bahan tambahan dalam vaksin di AS 2013 Setelah baca dokumen ini ada hal-hal yang saya kurang paham, seperti mengapa adadetergent dalam beberapa vaksin, seperti misalnya meningococcal. Di sini bisa juga dibaca ada WI-38 human [manusia] diploid lung fibroblast, MRC-5 cells, monkey kidney cells, dst. Additives in Vaccines Meningococcal-MMR-MMRV-Pneumococcal-IPV   Oke, di dokumen ini disebutkan bahwa zat tambahan dalam MMR II adalah Medium 199, Minimum Essential Medium, Phosphate, recombinant human albumin, neomycin, sorbitol, hydrolyzed gelatin, chick embryo cell cell culture, WI-38 human diploid lung fibroblasts. Ingat, semua bahan tersebut disuntikan langsung ke darah bayi/balita yang masih berkembang organ-organ tubuhnya. Atau yang lebih simpel, bahan tambahan dalam vaksin bisa dilihat di sini:http://www.cdc.gov/vaccines/vac-gen/additives.htm.  Di situ disebutkan zat tambahan yang lazim ada di vaksin termasuk aluminium, antibiotik, protein telur, formalin, MSG (Monosodium Glutamat), dan thimerosal (pengawet yang mengandung merkuri). Untuk bisa mengembangbiakkan dan memelihara virus, mereka membutuhkan kultur sel. Ingat, virus tidak bisa hidup sendiri di luar sel. Nah, kultur sel itulah yang dibutuhkan untuk menjaga agar si virus-virus itu tetap ada. Di antara sel-sel yang ada selain misalnya seperti yang bisa kita baca di atas dari organ tubuh hewan (monyet, anjing), juga dari manusia. Lebih jauh tentang kultur sel dari janin yang gugur—WI-38 dan MRC-5 bisa dibaca di sini: http://www.immunizationinfo.org/issues/vaccine-components/human-fetal-links-some-vaccines. Di situ disebutkan juga mengapa kemudian dibutuhkan kultur sel manusia,”human cells are preferred because cells derived from animal organs sometimes may carry animal viruses that could harm people” [sel-sel manusia lebih disukai karena sel-sel yang didapatkan dari organ tubuh hewan kadang-kadang dapat membawa virus hewan yang dapat merugikan manusia]. Nah, di situs biofarma, pada link info produk mereka tidak menyebutkan virus-virus tersebut dikulturkan dalam sel-sel apa. Namun, perlu diketahui, perusahaan-perusahaan pemroduksi vaksinasi luar negeri saja tidak menjamin bahwa si sel kultur tersebut tidak ikut masuk ke dalam produk hasil akhirnya, makanya pada daftar di atas kulturnya pun dicatat sebagai bahan tambahan. Nah, seperti apa Biofarma? Sejauh mana mereka bisa memasukkan virus ke dalam produk akhir tanpa turut mengikut sertakan kultur sel (yang entah dari hewan/manusia apa)? Kalau orangtua kebingungan dengan jargon medis, kita bisa cek di Merck Manual (http://www.merckmanuals.com/home/index.html).
  1. Apa sih bahan-bahan tersebut?
Masing-masing bahan kimia dalam vaksin memiliki “nomor kode”. Nama spesifik untuk nomor kimianya disebut CAS (Chemical Abstracts Service). Definisi nomor CASceuk Perpustakaan Universitas Negeri Humbolt adalah: Chemical Abstracts Service (CAS) has a registry system for all completely identified chemical compounds or substances. There are over 113 million chemical substances & sequences currently registered … Each individual chemical substance is assigned a CAS Registry Number which may be thought of as that substance’s “Social Security number.”(http://library.humboldt.edu…) [CAS memiliki sistem registry bagi semua senyawa atau zat kimiawi yang telah teridentifikasi. Terdapat lebih dari 112 juta zat dan rangkaian kimia yang saat ini terdaftar… Masing-masing zat kimia diberikan nomor registry CAS yang bisa dianggap “Nomor Jaminan Sosial” bagi zat tersebut] Begitu kita memiliki nomor CAS untuk sebuah bahan dalam vaksin, kita bisa mengecek zat kimia itu dengan pasti. Nah, dimana nge-cek-nya? Ada beberapa situs yang bisa dipake
  1. Apa yang vaksin ini bisa lakukan ke anak saya?
Langkah terakhir yang bisa membantu kita menentukan suatu produk baik atau tidak untuk kita pilih adalah, apa efeknya ketika dikonsumsi? Karena di Indonesia belum ada data yang lengkap, kita pilih Negara dengan jumlah vaksinasi paling banyak, Amerika Serikat, dan mereka punya sistem pelaporan cedera vaksin. Bisa dilihat di situs http://www.medalerts.org/vaersdb/index.php. Perlu diingat bahwa menurut VAERS sendiri, kurang dari 10% kasus cedera vaksin terlaporkan. Kita bisa baca lebih lanjut pada package insert vaksin (baca satu-satu) dihttp://www.immunize.org/packageinserts/ . Saya mendapatkan info MMR II yang saya caption di awal postingan ini dari link itu. Bisa baca lebih lanjut hingga ke reaksi adverse,clinical trials, dst. Informasi yang sangat sederhana mengenai efek samping vaksin bisa dibaca di sini. Cedera vaksin (vaccine injury) bukanlah sesuatu yang ringan atau jarang. Sayangnya di Indonesia, cedera vaksin belum diakui/belum ada penelitiannya. Apabila ada KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) alias anak kita jatuh sakit pasca vaksinasi, maka harus kita tanggung sendiri. Setahu saya belum ada bentuk sistem pelaporan resmi hal ini di Indonesia. All these vaccines and your kid still gets sickNamun, ada satu contoh penelitian, mengumpulkan laporan reaksi adverse akibat produk farmasi di bagian Pediatrik, Shanghai, Cina.  Menurut hasil pengumpulan data tersebut, laporan paling sering adalah akibat vaksinasi, sebanyak 1622 laporan alias 42,15%. Semoga ini sedikit bisa menjawab pertanyaan kelima akang X. Di Indonesia sudah adakah penelitian soal laporan reaksi adverse produk farmasi (termasuk vaksinasi) seperti ini? Saya sih belum menemukan. Di Indonesia memang belum ada kompensasi bagi korban KIPI, tapi, di Amerika sudah ada pengadilan vaksin semenjak tahun 1986 (Vaccine Injury Compensation Program). Misalnya lagi di Jepang, ada kompensasi untuk kematian akibat vaksin; 42,8 juta yen untuk imunisasi rutin, dan 7,14 juta untuk imunisasi pilihan. Tahun 2013 lalu vaksin HPV ditarik dari peredaran Jepang akibat laporan ratusan perempuan menderita efek samping pasca suntikan. Jadwal Vaksinasi Jepang Oktober 2014 Dokumen ini menyebutkan 6 negara yang memiliki program kompensasi bagi korban cedera vaksin, yaitu Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, Swiss, dan Denmark. Kalau menurut artikel ini, terdapat beberapa skema program kompensasi cedera vaksin di beberapa Negara termasuk Jerman, Perancis, Austria, Denmark, Jepang, New Zealand, Swedia, Swiss, UK, Irlandia, pada tahun 1980-an Taiwan Cina, Finlandia, Amerika Serikat, Canada, Italia, Norwegia, Korea di tahun 1990-an, dan yang baru-baru ini dimulai adalah di Hungaria, Islandia, dan Slovenia. Namun sejauh apa efektifitas implementasi program kompensasi ini sih wallahu’alam. Soalnya ada buku terbaru tentang sisi gelap pengadilan vaksin di Amerika Serikat. Jadi, cedera vaksin itu nyata. Masalah vaksinasi jarang sekali di-blow up di media massa, tapi ambil lah 2 contoh masalah vaksin yang sempat muncul di media massa negara lain, dalam hal ini India dan Kenya: Di India, Bill & Melinda Gates Foundation lagi di bawah tekanan para korban vaksin Gardasil keluaran Merck. Ada beberapa postingan berita tentang ini dari media massa India sendiri, bisa dibrowsing lebih lanjut. Dan di Kenya, sedang terjadi kontroversi panas karena sebuah grup katolik yang sangat provaksin dan telah membagikan vaksinasi selama hampir 100 tahun, melaporkan sebuah program Vaksin Tetanus pemberian WHO mengandung hCG yang dapat menyebabkan keguguran pada wanita, dan ini juga pernah terjadi di Meksiko, Filipina, Nicaragua,  dan Tanzania tahun 1994. Awalnya mereka curiga karena program vaksin tetanus ini diberikan tiga kali dalam kurun waktu yang berdekatan dan hanya kepada wanita usia subur. Ini juga ada beberapa beritanya, dan ujung-ujungnya katanya enggak separah itu. Terlepas bagaimana akhir dari seluruh kontroversi tersebut, terdapat dokumen mengenai pembahasan pemanfaatan vaksinasi untuk mengendalikan kesuburan tertanggal 17-18 Agustus tahun 1992–sebuah pertemuan di Genewa, Swiss. Fertility Regulating Vaccines Sejauh mana praktek riil di lapangan soal pemanfaatan vaksin untuk ini? Mungkin kita tidak akan pernah tahu. Mungkin kita bisa kembali ke poin soal bahan-bahan dalam vaksinasi, dan memperkirakan berbagai efeknya ke tubuh manusia. Anyway… Intinya, program-program vaksinasi bukan tanpa sisi gelapnya juga. Ingat, vaksinasi yang kita beri ke anak dengan jadwal yang ada sekarang, yang katanya ‘gratis dari pemerintah’ itu TIDAK gratis. Perusahaan penyedia vaksin tidak memberikan itu secara gratis, mereka mendapat bayaran dari pemerintah, yang membeli produk mereka dengan uang pajak (uang yang kita bayarkan ke pemerintah). Saya jadi ingin mengomentari OPV (vaksin polio oral) dan IPV (vaksin polio suntik). Tahukah Anda bahwa semenjak tahun 2000, Amerika sudah tidak lagi menggunakan OPVakibat banyaknya kasus vaccine-associated paralytic polio (VAPP), alias gejala polio akibat vaksin polio oral tersebut. Dan tahun 2009 lalu telah ada tulisan-tulisan yang mengajak dunia untuk bergeser dari OPV menuju IPV. Wah, kasihan dong Biofarma yang sudah menyetok OPV untuk 100 tahun ke depan.  Seperti yang kita ketahui, OPV masih diberikan di negara-negara ‘berkembang’ atau negara ‘dunia ketiga’. Jadi, gak ada alasan ‘wabah polio menyebar akibat anak-anak yang tidak divaksinasi’, karena secara dokumen medis sendiri gejala-gejala polio itu bisa terjadi akibat produk vaksin itu sendiri–dan ini bukan hanya berlaku bagi vaksin polio. Misalnya menurut package insert MMR II (yang ada link-nya di atas), pasca vaksin MMR bisa terjadi gejala campak pada anak.   *Ketiga, prakualifikasi itu apa sih? Apakah kita sudah sama-sama memahami apa itu definisi konseptual, bahkan lebih baik jika memahami definisi operasionalnya? Sehingga pertanyaan berikutnya adalah, apakah prakualifikasi ini merupakan variabel yang mempengaruhi kehalalan vaksin PT. Biofarma yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari MUI? Yang ini saya gak ikutan komen deh xixix… Baca lagi poin kedua di atas.   *Keempat, dengan vaksin ala Rasul Saw. apakah lantas menjadi haram jika ada vaksin lainnya yang ternyata juga dijamin kehalalannya. Bagaimana tinjauan fiqihnya? Dan juga apakah itu berarti kami jadi mengubah “rumus Allah” yang Anda maksud itu? Dalam hal ini, saya masih mempercayai MUI.  Im happy to be vaccine freeYah, ini mah saya mundur deh kalo ngomongin halal-haram mah hehe… (Tapi ya kalo memang ternyata si produknya ada misalnya sel anjing, monyet, dan manusia sih saya pasti menjauhi) Da bukan ini yang jadi pertimbangan saya untuk menjauhi vaksinasi. Mangga dipertimbangkan sendiri.  Bagi saya dengan semua resiko vaksinasi yang ada (baca package insertnya–kembali ke poin kedua di atas), dan dibandingkan dengan ikhtiar menjaga kesehatan melalui pola hidup dan pola makan, maka lebih besar resiko vaksinasi. Terlalu banyak pilihan non-medis untuk menjaga kesehatan tanpa ‘reaksi adverse’ dan murah meriah. Aku pilih yang ini saja. Pharmacy -- take them until further testing shows they really aren't effectiveSebenarnya kalau mau dibandingkan (ini sih observasi sekitar saja, ya), dibandingkan generasi sebelumnya, tambah banyak pasien bayi dan balita ke RS dan puskesmas. Kita bisa berargumen itu karena jajanan, atau polusi, dsb, tapi seringkali faktor vaksin tidak dijadikan pertimbangan dalam kebanyakan kasus. Dan saya mengajak faktor vaksin ini pun dipandang lebih objektif dan turut diperhitungkan dalam kasus penyakit anak-anak. Belum lagi perlu dipertimbangkan efek jangka menengah dan panjang dari produk ini. Mungkin waktu bayi tampak baik-baik saja, tapi bagaimana kondisi kebugarannya 20 tahun kemudian? Kini, generasi yang berusia 20-an dan 30-an sudah banyak yang menderita ‘penyakit orangtua': diabetes, asam urat, dsb. Apa yang menjadikan tubuh begitu rapuh, sehingga mengalami penyakit yang pada generasi sebelumnya baru dialami usia 50 tahun ke atas, dan generasi di atas mereka lagi di usia 60-70 tahunan masih jag-jag pergi ke sawah. Vaksinasi, yang udah jelas mengandung logam berat, dsb, perlu juga dijadikan faktor untuk mempertanyakan kerapuhan generasi sekarang (dan generasi di bawah kita–anak-anak kita–yang lebih rapuh lagi daripada kita). Sepertinya kerapuhan populasi secara umum berbanding lurus dengan penambahan jumlah dosis vaksinasi. Betul kan, secara berkala dosis vaksinasi terus ditambah di ‘jadwal imunisasi’. Oke, itu statement, mana buktinya? Berikut ini beberapa contoh studi:
Neurologic adverse events following vaccination (Kejadian adverse neurologis pasca vaksinasi) http://progress.umb.edu.pl/…/progress…/files/129-141.pdf Comparison of VAERS fetal-loss reports during three consecutive influenza seasons (perbandingan laporan  keguguran kepada VAERS selama tiga musim flu) http://het.sagepub.com/…/09/12/0960327112455067.abstract Vaccination facilitates Whopping Cough In The Vaccinated (Vaksinasi mendukung Batuk Gonggongan [pertusis] pada orang-orang yang telah divaksinasi) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20200027 A review on the association between inflammatory myopathies and vaccination (Ulasan mengenai hubungan peradangan miopati dengan vaksinasi) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24001753 Reactogenicity and Immunogenicity of Flu Vaccine in Mother and Infant (Reaktogenisitas dan Imunogenisitas Vaksin Flu pada Ibu dan Bayi) http://jid.oxfordjournals.org/content/140/2/141 Investigations of porcine circovirus type 1 (PCV1) in vaccine-related and other cell lines www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21835219?dopt=Abstract Transmission of varicella-vaccine virus from a healthy 12-month-old child to his pregnant mother (Penularan virus vaksin varicella dari anak sehat usia 12 bulan kepada ibunya yang sedang hamil) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9255208 Vaccine-associated Paralytic Poliomyelitis in Immunodeficient Children, Iran, 1995–2008 (VAPP pada anak-anak dengan imunodefisiensi, Iran, 1995-2008) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3321898/ Varicella Zoster Virus DNA at Inoculation Sites and in Saliva After Zostavax Immunization (DNA virus varicella zoster pada bagian inokulasi dan pada air ludah pasca imunisasi zostavax) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3096786/ Detection of fecal shedding of rotavirus vaccine in infants following their first dose of pentavalent rotavirus vaccine (Pendeteksian dan penyebaran rotavirus melalui tinja pada bayi pasca dosis pertama vaksin pentavalen rotavirus mereka) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21477676 Rotavirus vaccine-derived shedding and viral reassortants http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23249230 Investigating Viruses in Cells Used to Make Vaccines; and Evaluating the Potential Threat Posed by Transmission of Viruses to Humans (Penyelidikan virus dalam sel-sel yang digunakan untuk membuat vaksin; dan mengevaluasi potensi ancaman akibat transmisi virus ke manusia) http://www.fda.gov/…/biologicsresearchareas/ucm127327.htm Evidence of pestivirus RNA in human virus vaccines (Bukti keberadaan RNA pestvirus pada vaksin virus manusia) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC264050/
  Oke, aku pro-choice ya, dilarang ada bully vaksin. Yang mau tetap memvaksinasi anaknya ya silahkan. By the way bus way, ada seorang lulusan imunologi (bidang sains yang menciptakan vaksinasi) dari Rockefeller University, bernama Dr. Tetyana Obukhanych, yang awalnya 100% mendukung vaksinasi. Namun, kemudian akibat pengalaman pribadinya dengan ini dan itu, berubah 180 derajat, dan mendukung ketahanan tubuh alami. Beliau membuka diri untuk mengajarkan bidang ilmu yang ia beri nama Natural Immunity Fundamentals. Silahkan klik link-nya untuk baca lebih lanjut tentang pengalaman beliau dan apa yang beliau ajarkan. (wah, apa ini bakal dilabeli sebagai “hoax pihak anti-vaks”? Xixix…) Selama ini kita menganggap bahwa medis-farmasi adalah satu-satunya jalan bagi kesehatan, tapi sebenarnya enggak. Selain itu, ada pilihan-pilihan non-medis lain untuk kesehatan seperti homeopathy dan functional medicine. Keduanya didirikan oleh dokter-dokter lulusan medis-farmasi, namun kemudian menempuh jalur non-medis untuk membantu para pasiennya. Ada dokter-dokter yang secara terbuka tidak mendukung vaksinasi, di antaranya: Dr. Mayer Einsenstein, Dr. Russell Blaylock seorang ahli bedah syaraf, Dr. Sherri Tenpenny ikuti juga page facebook-nya (dia yang membuat pernyataan, “Health doesn’t come from a needle.”), Dr. Meryl Nass, Dr. Joseph Mercola, Dr. Kelly Brogam, Dr. Susan Humphrey yang telah memproduseri film The Greater Good–pada website filmnya ia mendaftar beberapa dokter lain yang secara terbuka tidak mendukung vaksinasi. Apakah kita akan mengatakan mereka bukan dokter-dokter yang ‘baik’ karena tidak mengikuti pendapat umum soal vaksinasi? Atau memberi mereka label ‘anti-vaks’ dan ‘hoax’? Terserah deh. Tapi menurut saya sih dikit-dikit nge-labelin hoax sama berita apa pun yang beda dengan opini kita sih konyol banget ya? Gak setuju ato beda pendapat ya beda pendapat aja, gak usah saling mengkafirkan :). When the herd is all running towards a cliffOh, sedikit curcol, awalnya pikiranku tergelitik untuk membaca lebih jauh tentang vaksinasi ini sebenarnya karena pengalaman pribadi. Waktu itu anak pertamaku, baru saja vaksinasi pertemuan ke-tiga (usia tiga bulan), dan mendapat dua suntikan + OPV. Dari semenjak lahir hingga saat itu, melihat anakku disuntik itu rasanya deg-degan sekali, tapi aku tahan karena ya itu untuk kebaikan dia, kan ya? Well, setelah pertemuan ketiga, anakku menangis sejadi-jadinya dan panas badannya. Saya tahu itu adalah hal biasa pasca vaksinasi, tapi tetap saja saat itu saya tergelitik untuk bertanya, “Is this it?” Apakah ini satu-satunya cara? Apa saya harus terus sabar menghadapi anakku menjadi bantalan jarum lusinan kali selama ia balita dan anak-anak?  Hal-hal menggelitik itulah yang memulai perjalananku ini. The End. …for now. See you later. —————————————- Oke, anyway, berikut ini semua pertanyaan akang X secara full: Pertama, saya pribadi tidak sangsi dengan khasiat herbal yang bersumber dari Al-Qur’an dan Assunnah tersebut, insya Allah, saya pun akan menerapkannya pada anak saya kelak. Berhubung belum ada yang mau jadi istri saya, jadi saya belum punya anak untuk diimunisasi #curcol Kedua, Kriteria Thoyyib itu seperti apa sih? Maksudnya, kriteria seperti apa sehingga Anda mengklaim vaksin produksi PT. Biofarma ini tidak thayyib, atau bahkan mungkin beracun? Sehingga pertanyaan berikutnya, apakah Anda sudah melakukan penetlitian terhadap vaksin tersebut? Kalau ada, adakah jurnalnya? Saya sarankan ada baiknya melakukan interaksi dan komunikasi dengan pihak produsen untuk mengklarifikasi atas klaim Anda.  Ketiga, prakualifikasi itu apa sih? Apakah kita sudah sama-sama memahami apa itu definisi konseptual, bahkan lebih baik jika memahami definisi operasionalnya? Sehingga pertanyaan berikutnya adalah, apakah prakualifikasi ini merupakan variabel yang mempengaruhi kehalalan vaksin PT. Biofarma yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari MUI?  Keempat, dengan vaksin ala Rasul Saw. apakah lantas menjadi haram jika ada vaksin lainnya yang ternyata juga dijamin kehalalannya. Bagaimana tinjauan fiqihnya? Dan juga apakah itu berarti kami jadi mengubah “rumus Allah” yang Anda maksud itu? Dalam hal ini, saya masih mempercayai MUI.  Kelima, Sudah sejauh mana eksperimen Anda selama ini? Saran saya, jika belum membuat penelitian, desain penelitiannya adalah membuat perbandingan antara yang menggunakan vaksin PT. Biofarma saja, kemudian imunisasi ala Rasul Saw. saja, kemudian dengan yang menggunakan vaksin PT. Biofarma plus vaksin ala Rasul Saw. Kemudian dalam jangka waktu tertentu silakan ukur pengaruh atau efeknya. Sehingga nanti akan jelas perbandingannya. Desain penelitian ilmiah ini penting, karena bisa dipertanggungjawabkan di ranah akademisi dan orang-orang yang kompeten, terlebih untuk diketahui oleh khayalak. Ada lima statement dari saya, dan setiap statement ada beberapa pertanyaan. Silakan untuk menjawab setiap pertanyaan secara RUNUT. Kalau hanya copy paste dari artikel lain, dan jadinya malah gak nyambung dan berantakan (tidak runut) nantinya, mohon maaf, saya kurang bisa menerima, karena saya pusing bacanya. Dan mohon maaf juga jika tidak bisa mengikuti aturan diskusi saya, komentar Anda selanjutnya akan saya hapus, demi ketertiban dan menghindari debat kusir. Wassalaam.

Sumber : http://punyahannawilbur.wordpress.com

0 Response to "Kebingungan Tentang Vaksinasi (Pro Kontra tanpa harus Fanatik)"

Post a Comment