Oleh: Yeti Widiati S, Psikolog di Biro Psikologi Paradigma
PERKENALKAN putri saya tercinta, Ghina Amalia. Karena kondisinya (crouzon syndrome), ia perlu melakukan operasi rekonstruksi tulang kepala beberapa kali dalam hidupnya. Selain keunikan fisiknya, pendengarannya hanya 70% sehingga menuntut strategi dalam pendekatan dan pendidikannya, baik di rumah maupun di sekolah.
Cerita di bawah adalah kejadian setelah ia pulang operasi pertama yang dilakukan pada saat ia berusia 2 tahun. Sekarang dia sudah berusia 20 tahun, asyik belajar keunikan budaya manusia di Jurusan Antropologi semester 5, sambil tetap menekuni hobi menggambarnya.
Kala itu, ada satu masa Ghina berubah perilakunya, seperti “Ratu” yang memperoleh semua kemudahan. Penuntut, mau menangnya sendiri dan semua keinginan harus terpenuhi segera. Kalau keinginannya tak terpenuhi, dia akan marah dan menangis yang membuat semua orang tidak tega dan akan berusaha sedapat mungkin memenuhi keinginannya.
Dan itu terjadi beberapa pekan setelah ia operasi yang pertama pada usia 2 tahun.
“Kasihan …. kan dia sakit …., ” adalah kalimat sakti yang mempengaruhi perlakuan orang padanya. Ghina kecilku dengan segera belajar bahwa dia bisa mempengaruhi dan mengendalikan orang lain hanya dengan tangisan.
Kami memutuskan dan bersepakat untuk mengubahnya. Betul dia memang sakit dan ini berat. Tapi jangan sampai kami menambah bebannya. Dijauhi orang lain karena perilakunya yang buruk. Sakitnya saja sudah merepotkan, lebih sengsara lagi kalau dia tidak punya teman. Dan ini tidak adil buat kakaknya karena dia yang harus selalu mengalah. Untuk itu kami harus bekerja sama dan saling mendukung.
Saya memutuskan untuk mengawali pada Sabtu pertama pekan itu, saat saya berbelanja ke supermarket dekat rumah. Sebelum berangkat, saya berlutut di depan Ghina sehingga posisi mata saya sejajar dengan matanya. Memegang kedua tangannya dan menatap matanya.
“Nak, Mama mau pergi ke Hero, Ghina mau ikut?”
Ghina 2 tahun belum lancar bicara. Dia mengangguk dengan mata berbinar.
“Dengerin Mama ya. Nanti di Hero kita akan beli hanya yang ada di catatan Mama. Kita tidak beli Chiki, permen, dan lain-lain (saya menyebutkan ragam cemilan yang tidak boleh dibeli). Kita beli susu. roti, ….” (saya sebutkan daftar barang di catatan).
Ghina mengangguk-angguk dengan cepat.
“Kamu gak boleh rewel, nangis, marah-marah, minta macam-macam. Kalau kamu rewel, nangis, marah, dan minta macam-macam, kita pulang dan minggu depan kamu gak boleh ikut Mama ke Hero”
Ghina mengangguk, sepertinya tidak terlalu yakin dengan ancaman saya. Benar saja, perilakunya di Supermarket menunjukkan itu. Dia lakukan semua yang saya larang. Layaknya bos, dia menunjuk semua barang yang dia inginkan. Dan ketika saya mengabaikan, dia mulai gelisah. Kesal dan akhirnya, “Waaaaaa …… ” Ghina menangis dengan sangat keras sehingga semua orang menoleh kepada saya.
Saya merasakan muka saya menjadi hangat. Saya malu dan salah tingkah. Orang-orang memandang saya dengan tajam. Rasanya seolah seperti menuduh, “Ni ibu, anaknya diapain sih?”
Ini titik kritis. Kalau saya berikan apa yang dilarang, maka ambang batas tuntutan Ghina akan meningkat. Akhirnya, saya tatap mata Ghina yang duduk di atas troley.
“Nak, tadi Mama sudah bilang, kamu tidak boleh rewel. Karena kamu rewel, sekarang kita pulang, minggu depan, kamu tidak ikut Mama ke sini.”
Mendengar perkataan saya, tangis Ghina tambah keras, kakinya menendang-nenang. Semakin banyak orang yang menoleh sekarang.
Saat di kasir, seorang ibu sepuh bertanya, “Anaknya nangis kenapa Mbak?”
“Minta Chiki, Bu, gak boleh.”
“Kasihan kan, nangisnya sampai begitu, kasih saja, kenapa?”
Saya hanya menjawab dengan senyuman.
Setelah urusan kasir beres, saya berlalu segera dari situ menghindar tatapan orang-orang. Rasanya saya seperti dituduh “Itu ibu kejam banget, anaknya minta Chiki doang gak dikasih”!
Di rumah, saya peluk Ghina yang masih tersedu.
Setelah reda, saya katakan, “Nak, nanti lagi kalau ke supermarket jangan rewel lagi ya. Kalau rewel seperti tadi itu. Nanti kita pulang lagi, gak jadi belanjanya, kan.”
Ghina hanya mengangguk.
Pekan depan, sesuai janji, saya tidak mengajak Ghina pergi.
“Nak, Mama mau pergi dulu, kamu tidak ikut ya, karena minggu kemarin kamu rewel dan nangis di Hero.”
Ghina kecil kaget, dia tidak menduga kalau saya tetap menjalankan apa yang saya katakan. Dia menangis dengan sangat keras. Saya titip Ghina pada mbaknya supaya dia dipeluk dan ditenangkan, dan saya tetap pergi. Suara tangisannya masih terdengar hingga ke luar rumah. Saya menghela napas, tidak tega rasanya mendengar tangisan kecewanya.
Pola ini kami lakukan berulang secara konsisten.
Pekan ketiga, Ghina menjadi anak yang luar biasa manis dan penurut. (Saya mengira saya sudah berhasil). Pekan keempat dia mulai mencoba lagi dan menangis dengan jauh lebih heboh di supermarket. (Saya nyaris menyerah karenanya). Namun kami tetap dengan pola yang sama, pulang dan pekan depan dia tidak ikut. Fluktuasi berulang, kadang saya luluh dan ingin membatalkan. Tapi suami saya mengingatkan kembali. Kami memang akan sulit menerapkan pola ini bila tidak bekerja sama.
Kami tak tahu sampai berapa lama kami lakukan. Kami hanya fokus pada tujuan yang ingin dicapai dan keburukan yang ingin dihindari. Hingga sekitar 6 bulan kemudian saya menyadari bahwa Ghina menjadi jauh lebih tenang dan lebih mudah diajak bekerja sama. Alhamdulillah. [] IP/TPA

0 Response to "Pentingnya Kerjasama Orang Tua dalam Mendidik Anak"
Post a Comment