1. SAAT anak menangis karena terjatuh akibat menabrak kursi, tiba-tiba sang Ibu memukul kursi sembari berujar, “Dasar kursi nakal, lihat sudah ibu pukul kursinya. Sekarang dedek diam ya!” || Aneh! Bukankah dengan begitu mengajarkan perilaku yang tidak baik, yakni sifat ketidak hati-hatian anak bukanlah kesalahan. Sehingga yang bertanggung jawab atas kecerobohan sang anak justru kursinya. Kalau seperti ini, jangan heran saat dewasa, anak-anak akan mencari ‘objek penderita’ untuk menutupi kesalahannya.
2. Saat anak menangis, sang Ibu berujar, “Berhenti nangisnya, lihat ada pak dokter lewat. Nanti disuntik, jarumnya panjaaaang. Iihh seraaam.” || Aneh! Sedari kecil sang anak sudah dibuat ‘phobia’ pada dokter, giliran sakit betulan dan membutuhkan jasa seorang dokter sang anak tidak mau malah dipaksa. Padahal saat anak tidak mau ke dokter, berarti dia cerdas karena ajaran Ibunya diingat.
3. Saat menjelang Maghrib, anak-anak dilarang bermain ke luar rumah, sembari berujar, “Jangan keluyuran waktu Maghrib, nanti diculik setan.” || Aneh! Ujaran seperti itu pembodohan kepada anak, padahal perkara yang gaib itu urusan Allah mengapa ‘melangkahi’ wewenang-Nya hanya untuk mengupayakan anak agar di rumah? Katakan saja, sudah azan waktunya shalat dan mengaji, bukankah ini jauh lebih mencerdaskan.
4. Saat anak mendapatkan nilai ujian rendah, sang Ibu langsung memarahi habis-habisan bahkan disertai ancaman. || Aneh! Justru pada saat seperti ini anak membutuhkan dukungan, tanyalah kesulitannya di mana dan tawarkan solusi agar ke depan sang anak dapat memperbaiki nilainya. Emosi bukanlah solusi: intropeksi dan santun hati justru jadi sarana musyawarah terbaik dengan sang buah hati. []
Arief Siddiq Razaan, 10.10.2015

0 Response to "Beberapa Keanehan dalam mendidik anak"
Post a Comment