Benarkah gara-gara buku?
Sampai saat ini aku masih ragu untuk menjawabnya dengan kata Ya, meskipun analisaku kadang membenarkannya.
Maret tahun 1991 tanggal 5 aku melahirkan seorang bayi perempuan mungil, terlalu mungil bahkan, karena berat badan lahirnya pas-pasan, 2500 gram.
Ketika usianya baru seminggu, tiba-tiba ia kudapati seperti kejang, lengan dan kakinya bergerak spontan tak karuan, kelojotan. tidak bisa ditahan walaupun ia kudekap kuat-kuat,sehingga sambil menangis kubawa ia ke RSCM tempat ia kulahirkan. Aku lupa kalau aku seorang dokter sebenarnya.
Hasil pemeriksaan dokter anak menyimpulkan anakku harus dirawat di ICU. Berbagai macam pemeriksaan kemudian dilakukan untuk mengetahui kondisi dan penyebab kejang yang berlangsung cukup lama, dan semua hasil pemeriksaan menyebabkan airmata tumpah. Hasil pemeriksaan USG menunjukkan adanya pelebaran ventrikel lateral di otak, dan dari CT Scan diketahui terdapat atrofi Cerebri. Otak anakku tak berkembang dan sebagai konsekuensinya ia mungkin akan mengalami hendaya dalam tumbuh kembangnya.
Kenyataan yang sungguh menyedihkan tapi harus kuterima dan aku harus menyusun rencana buatnya seandainya dia cacat nanti, karena aku sangat yakin bahwa sekalipun dia cacat, Tuhan yang sangat Pengasih pasti menghadiahkan kelebihan buatnya, kelebihan tersembunyi yang harus mampu kutemukan.
Beruntung aku bertemu dengan seorang dokter spesialis syaraf anak yang begitu penuh perhatian, ia menganjurkan agar aku sedini mungkin memberikan rangsangan pada seluruh panca inderanya dan tentu juga otaknya. "Bacakan buku, perdengarkan musik, kenalkan pada alam" begitu yang dr Hardiono D Pusponegoro sarankan. "intinya: baca!!!"
Di usianya yang belum sebulan koleksi bukunya lebih banyak dari milik anak TK . Buku pertamanya adalah Poldy , buku yang banyak berisi pelajaran , mengenal angka, mengenal warna, mengenal bentuk, mengenal huruf, mengenal hewan ,mengenal tumbuhan dan permainan yang mengasyikkan, Puzzle raksasa untuk anak seusianya. Berdua kami membaca buku berbahasa Inggris itu sambil mengenalkan vocabulary sederhana :"Red...merah...ini warnanya" kataku sambil menunjuk ke bentuk triangle berwarna merah.
haha...kadang aku malah harus ditemani dictionary ketika membacakan buku-buku itu untuknya.
Setiap hari selalu ada buku yang kami baca bersama, buku apa saja! Bahkan saat aku juga harus belajar dan membaca buku-buku kedokteran, aku sering melakukan berdua dengannya sehingga telinga kecilnya sudah terbiasa mendengar istilah-istilah medis, termasuk tentang atrofi cerebri, kondisi yang dideritanya yang kemungkinan besar penyebabnya adalah aku dan juga dia sama-sama terinfeski TORCH. Hasil pemeriksaan yang dilakukan pada kami menunjukkan semua hasil positif, kecuali Toxoplasma, untuk itu anakku harus minum Isoprinosin untuk waktu yang lama.
Satu hal yang sangat kusyukuri saat itu adalah aku mengetahui kondisi itu sangat awal dan anakku belum menunjukkan kelainan apa-apa, kecuali kejang yang menyebabkan aku membawanya ke rumah sakit.
Lantas dimana peranan buku dalam kehidupan selanjutnya?
Seperti kalimat di awal tulisan ini, aku terus terang tidak bisa membuktikan secara ilmiah bahwa anakku bisa menjadi hebat seperti sekarang adalah karena buku, tetapi bukti-bukti peranan buku terhadap perkembangan intelektualitas dan kemampuan bahasanya berkaitan erat dengan buku-buku yang selalu kubacakan, manfaatnya sangat nyata, paling tidak bagi mataku.
Di usia setahun dia bisa menunjukkan buku mana yang dia inginkan. Cerita yang paling menarik perhatiannya dan selalu diminta berulang-ulang untuk dibaca adalah kisah seekor macan loreng bernama Mahatar yang takut ke dokter gigi, judulnya "Mahatar sakit gigi"
"Kita baca Mahatar yuk Nin!" ajakku, maka lantas dia dengan tangan mungilnya menggapai buku tersebut yang sengaja kuhamparkan bersama buku-buku lainnya, dan ajaib! Dia mampu mengambilnya dengan tepat.
Sesungguhnya, perkembangan motoriknya agak sedikit terganggu, anakku baru bisa berkata-kata dan berjalan ketika umurnya 18 bulan Masih kuingat satu kejutan dia berikan untukku.
Saat itu aku sedang bertugas di emergency room salah satu rumah sakit swasta besar di Jakarta Timur. Ayahku membawanya ke tempatku berdinas. Aku dikejutkan oleh suara anak kecil "Mamaa..." dan aku dibuat lebih kaget lagi ketika melihatnya dia berjalan sendiri ke arahku. Kali itu airmataku adalah airmata bahagia. Sejak saat itu kebahagiaan demi kebahagian terus berdatangan.
Belum genap tiga tahun dia sudah bisa membaca buku cerita favoritnya, sendiri.
Sejalan dengan perkembangan kemampuan motorik dan mentalnya, buku-buku yang dibacanya juga ikut berkembang bahkan yang terkategorikan berat untuk anak seusianya dibaca juga tanpa kernyit di dahinya, Buku John Perkin, Stephen King misalnya.
Buku pula yang menyebabkan kemampuan berbahasanya menjadi begitu mengagumkan, dia fasih berbahasa Inggris tanpa ikut les, itu yang menyebabkan ia pede untuk bertandang keluar negeri sendiri.
Ia pernah menjadi perwakilan dalam pertemuan mahasiswa kedokteran "Asia Pacific Regional Meeting" di Taiwan dan bahkan dia terpilih menjadi salah satu dari International Organizing commitee untuk APRM 2010.
Dia juga pernah mengikuti research exchange ke Belanda dan menjadi mahasiswa termuda di timnya yang bekerja di Immunology Lab divisi Auto immune,Erasmus MC, supervised by Prof H.A Drexchage. Dia menjadi satu-satunya mahasiswa S1 bekerja bersama teman-teman dari lain negara yang tengah mengambil program doktoral.
Prestasi lainnya, bersama teman-temannya di FK Universitas Brawijaya ia pernah menyabet Medali Perak dalam lomba penelitian ilmiah di event Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Denpasar.
Mungkin itu lah bukti yang bisa aku tuliskan.
Siapa yang pernah mengira anak yang diperkirakan akan cacat itu,sekarang tengah asyik menjalankan perannya sebagai dokter muda. Diusianya yang belum 20 tahun dia diwisuda sebagai Sarjana Kedokteran.
Aku menyebutnya dia anak hebat, setidaknya untuk hati ku... Jika anda membutuhkan Buku buku berkualitas untuk anak anak silahkan kunjungi https://www.facebook.com/KhaulaMomBabyShop Buku berkualitas bagi perkembangan anak
Sumber: Putri Annisa Kamila bekerja di Lab, Rotterdam

0 Response to "Diperkirakan Cacat Ternyata Malah Hebat"
Post a Comment