Kebanyakan
kita mendidik anak seperti orang tua kita dulu mendidik kita. Ada yang
berhasil, tapi tidak sedikit pula yang gagal. Hanya saja orang tua
banyak yang mengulang kesalahan yang dibuat orang tuanya dulu dalam
mendidik anak. Setidaknya terdapat empat kesalahan atau dosa orang tua
terhadap anak yang seringkali kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari.
Memberi Label Buruk
Dosa
yang pertama adalah memberikan label buruk pada anak. Secara tidak
sadar orang tua sering melontarkan kata-kata yang merendahkan anaknya.
Ungkapan “kamu malas, kamu bodoh, kamu tidak bisa diharapkan” adalah hal
yang biasa kita temukan dalam keseharian. Orang tua secara tidak
langsung memberi cap anaknya dengan cap yang sangat buruk yang mereka
sendiri tidak berharap seperti itu. Namun kita adalah apa yang kita dan
orang lain labelkan pada diri kita. Jika anak sering mendengar kata-kata
yang merendahkan, ia akan hidup dengan membawa rasa rendah
diri. Jika ia sering diberi cap pemalas, cepat atau lambat dia akan
percaya bahwa dirinya memang malas. Bahkan yang lebih parah dia
seringkali membuktikan pada sekelilingnya bahwa dia memang anak yang
malas. Meski suatu kali dia berperilaku rajin, dia sendiri akan
menganggapnya sebuah hal yang kebetulan.
Bayangkan
betapa malangnya anak yang tumbuh dengan pikiran negatif seperti ini.
Ia akan membawa seumur hidupnya label buruk pada dirinya tersebut.
Padahal yang dibutuhkan seorang anak adalah kata-kata yang menyemangati
dan membesarkan hatinya. Bukan sebaliknya. Mestinya anak diperlihatkan
sisi positif dirinya, bukan bagian negatifnya. Anak yang menurut kita
malas, barangkali punya kelebihan fisik yang kuat atau tangkas
berolahraga. Harusnya bagian positif itulah yang sering kita ingatkan
setiap saat kepadanya. Jangan lupa, setiap anak itu cerdas dan cerdas
jangan selalu diartikan harus selalu rangking satu di kelas.
Membandingkan
Ini
dosa lain yang tidak kalah berbahayanya bagi perkembangan anak.
Orangtua teramat sering membandingkan salah seorang anaknya dengan
saudaranya yang lebih baik atau anak tetangga yang lebih berprestasi.
Ada orang tua yang mengatakan “Lihat tuh kakakmu, selalu juara kelas.
Kamu 10 besar pun tidak.” Atau “ Tuh contoh anak Om Anton, diterima di
UI. Kamu? Kuliah di jurusan nggak jelas!.”
Kita
bisa bayangkan anak yang selalu dibandingkan dengan saudaranya yang
menurut kita lebih baik. Ia akan hidup dalam perasaan tidak diterima
oleh orang tuanya sendiri. Jika anak merasa seperti itu, dimana lagi
mereka bisa berharap akan diterima. Sebab, orang yang tidak bisa bahagia
di tengah keluarganya sendiri, maka dia tidak akan pernah bisa bahagia
dimanapun. Kalau pun dia mencoba mencari sumber kebahagiaan di tempat
lain, maka tempat lain itu biasanya adalah tempat yang berbahaya
baginya. Maka jangan heran jika anak mencari kebahagiaan dengan alkohol,
narkoba, seks bebas dan lain-lain. Sebab ia tidak pernah memperolehnya
di rumah sendiri.
Memaksakan Kehendak
Mungkin
kita punya tetangga yang anaknya les tujuh hari seminggu. Senin-Kamis
les matematika, Selasa-Jum’at les bahasa Inggris, Rabu-Sabtu les piano.
Sorenya bikin PR. Malam belajar lagi. Begitulah setiap hari. Anak yang
masih usia SD atau SMP memiliki kehidupan seperti orang dewasa yang
berkarir. Ia seperti punya kehidupan sendiri. Layaknya miniatur orang
dewasa. Bahkan waktu bermainnya telah dirampas oleh berbagai les yang
sebenarnya belum tentu bermanfaat ketika ia besar nanti.
Lucunya,
orangtua berkilah bahwa itu keinginan si anak. Padahal menurut ahli
psikologi, anak yang belum berusia 9 tahun, sebenarnya belum memiliki
keinginannya sendiri. Keinginan mereka adalah keinginan orang tua nya.
Celakanya, orangtua seringkali menuangkan keinginannya pada anak tanpa
ia sadari. Bahkan secara tidak sadar, keinginan orangtua yang tidak
kesampaian dalam kehidupannya di masa lalu, di balaskan kepada anak. Ada
orangtua yang gagal kuliah di kedokteran, maka berharap sangat anaknya
ada yang jadi dokter. Maka si anakpun dipersiapkan dari kecil.
Memasukkan ke berbagai les, memanjakan dengan fasilitas mewah serta
menyekolahkan ke sekolah-sekolah elit. Jika si anak tidak mampu, maka
orangtuapun menggunakan berbagai cara agar cita-citanya tadi tercapai.
Apalagi
sistem pendidikan kita memungkinkan untuk itu. Lihatlah berapa
banyaknya pilihan les yang ada. Sekolahpun biayanya selangit. Di
universitas juga lebih parah lagi. Konon untuk masuk kedokteran di
Universitas Airlangga calon mahasiswa dikenakan biaya 800 juta. Biasanya
inilah yang diinginkan sebagian orangtua. Dengan uang, mereka bisa
membuat anak seperti keinginannya.
Menyuruh yang Tidak Dilakukannya
Perintah
orang tua kepada anak sering tidak bermakna karena tidak adanya
keteladan. Ada bapak yang melarang anaknya yang masih SMP merokok.
Padahal ia sendiri menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari. Ada ibu
yang menyuruh anaknya belajar dan rajin membaca, sementara si ibu
sendiri nyaris tak pernah lepas dari sinetron kesayangannya. Atau ada
orangtua yang ingin anaknya menjadi anak yang shaleh, rajin shalat dan
selalu mendoakan ibu bapaknya. Si anakpun disekolahkan di sekolah Islam
yang bagus dan mahal. Namun di rumah si anak tidak pernah melihat
ayahnya shalat. Paling sekali seminggu, Jum’atan.
Kalau
seperti ini, tentu anak tak akan pernah seperti yang kita inginkan.
Bagi mereka sebuah contoh nyata jauh lebih berpengaruh dari seribu
kata-kata perintah tanpa keteladanan. Para pemimpin yang berhasil dalam
sejarah adalah mereka yang satunya kata dan perbuatan. Lidahnya adalah
hatinya, ucapannya adalah perbuatannya. Orang tua yang berhasil dalam
sejarah juga adalah orang tua yang mengutamakan keteladan dalam mendidik
anak.
Jadi,
mari kita didik anak dengan hati serta keteladanan. Di kehidupan yang
penuh dengan kebohongan dan ketidakjujuran, keluarga menjadi tempat
utama anak-anak akan menjadi pelopor kebaikan.
0 Response to "Empat Dosa Orang Tua Kepada Anak"
Post a Comment